image

Jika saja punya uang banyak untuk membuat sebuah film atau video klip, saya akan langsung memilih lokasi di: Tegalpanjang! Dijamin deh, mata kita akan dimanjakan jika melihat masterpiece Sang Seniman Alam Semesta ini.  

Jangan Mandi pada Siang Bolong

Tempat nan indah ini terletak di sebelah selatan Bandung, di perkebunan teh Pangalengan. Tepatnya, di antara Gunung Puntang dan Gunung Papandayan. Perjalanan dari Bandung ke desa terakhir, desa Cibatarua, memakan waktu sekitar lima jam jika menggunakan kendaraan pribadi. Jika menggunakan angkutan umum, di Bandung kita menuju ke terminal Kebun Kelapa. Dari Kebun Kelapa ke Pangalengan kita dapat menggunakan bus umum, lalu dari Pangalengan ke desa Cisedep menggunakan angkutan umum. Tapi hati-hati, angkutan dari Pangalengan ke Cisedep hanya ada hingga sore hari, kira-kira jam 15.00 WIB. Dari Cisedep ke Cibatarua, kadang-kadang ada truk angkutan hasil perkebunan. Tetapi jika kurang beruntung, apa boleh buat, kita harus berjalan kaki selama kira-kira dua jam. Total perjalanan dari Bandung dengan menggunakan angkutan umum kira-kira tujuh jam! Kita bisa menginap di Cibatarua, tentu saja dengan seizin RT/RW setempat. Selain di mesjid, kita juga bisa tidur di pos-pos tempat menyimpan hasil perkebunan sementara. Tetapi, suhu udara di malam hari sangat dingin, jadi harus selalu siap sedia peralatan tidur yang menghangatkan. Di Cibatarua banyak terdapat warung-warung kecil dengan bapak-bapak dan ibu-ibu penjual yang ramah. Di sana kita dapat menikmati teh tubruk yang rasanya, mmm … nikmat sekali! Apalagi jika diminum panas-panas di malam yang dingin. Tanpa gula pun, teh ini sudah sedap. Ada satu pesan dari bapak pemilik salah satu warung: jangan pernah mandi siang-siang di Cibatarua dan sekitarnya! Awalnya kami berpikiran, jangan-jangan berhubungan dengan takhayul dan kami bisa kualat jika melanggarnya. Tapi ternyata si bapak dengan logis menjelaskan: air yang mengalir dari pegunungan suhunya sangat dingin. Jika mandi pada pagi hari, suhu udara masih dingin, jadi air akan terasa lebih hangat. Tetapi jika mandi pada siang hari, saat udara sedang panas, wah … ditanggung, orang akan kedinginan dan gemetar. Biasanya, setelah semalam menginap di desa ini, keesokan harinya, pagi-pagi sekali, para pendaki telah berkemas. Kebanyakan bertujuan ke Gunung Papandayan. Yang bertujuan ke Tegalpanjang belum terlalu banyak, karena lokasi ini memang belum banyak diketahui orang. Selain itu, jalan menuju lokasi agak sulit dilalui karena lumayan membingungkan. Apabila berminat untuk tracking dengan GPS anda bisa unduh file di http://navigasi.net, tentunya anda harus daftar dulu ke situs tersebut selain itu memiliki software Mapsource Garmin dan tentunya perangkat GPS.

Perjalanan Menuju Taman Bermain Peri Dari Cibatarua, kita menyusuri kebun teh dahulu menuju arah barat. Setelah kira-kira satu jam berjalan, kita mulai memasuki hutan. Ada tiga sungai kecil yang dilewati, airnya masih jernih. Segar sekali rasanya membasuh tangan setelah berjalan jauh. Medan yang dilalui bervariasi, tidak melulu mendaki. Ada jalan setapak yang menurun, mendatar, tapi kebanyakan menanjak. Suatu kali, ketika lelah berjalan selama kira-kira empat jam, kami dikejutkan oleh kemunculan seekor elang. Antara kaget dan takjub, kami dibuat terdiam karena sang raja langit itu terbang dari pohon yang jaraknya dekat sekali, hanya sekitar tiga meter. Mula-mula ia terbang berputar di dekat kami, sekitar dua meter di atas kepala, kemudian ia mengepakkan sayapnya, menuju matahari. Rasa lelah karena medan yang dilalui lumayan berat serasa menghilang dari badan, dikalahkan oleh rasa takjub melihat elang begitu dekat. Selain itu, terdengar juga suara-suara monyet, tapi mereka tidak pernah menampakkan diri sehingga jenisnya tidak diketahui. Setelah sekitar lima jam berjalan, mendaki, menyusuri jalan setapak datar dan menurun, kita akan sampai di suatu tanjakan yang curam. Hampir saja rasa putus asa mengalahkan semangat diri. Tapi, di akhir tanjakan dan begitu keluar dari rangkulan bayangan pohon-pohon besar, serasa melihat taman bermain peri. Seketika, terlihat suatu padang rumput yang maha luas, sekelilingnya dilindungi oleh hutan dan kaki-kaki gunung. Tak ada yang bisa dilakukan, kecuali diam sebentar, duduk melepaskan lelah, dan melemparkan pandangan sejauh-jauhnya. Ilalang bagai menari ditiup angin, dan sungai berkelok bagaikan ular raksasa penjaga padang rumput. Kata-kata tak akan cukup untuk melukiskan perasaan di dalam hati, yang campur-aduk antara takjub, lelah, ringan, dan macam-macam. Imajinasi langsung berkembang. Alangkah cocoknya jika padang ilalang ini digunakan sebagai tempat bermain peri-peri mungil yang bercahaya. Atau bahkan bidadari-bidadari cantik yang bersayap. Membayangkan mereka berkejaran, atau melangkah hati-hati karena tidak ingin merusak tempat yang sangat indah ini. Setelah puas memandang sekeliling, kami mulai menyusuri padang ilalang ini, menuju ke sungai. Ternyata dari permukaan padang rumput ke dasar sungai cukup dalam, kira-kira tiga meter. Pada musim kemarau air sungai tidak terlalu banyak, dan sungai ini dapat diseberangi hanya dengan melangkahinya saja. Dari sungai, mulailah kami mencari tempat yang aman untuk bermalam. Tentu saja lokasi yang dipilih adalah di hutan yang terletak di sisi-sisi padang ilalang ini, agar terlindung dari angin yang menusuk hingga sumsum. Ketika malam tiba, kita dapat mendengarkan desiran angin yang menerpa ilalang, bagai menyenandungkan tembang lirih. Serasa dininabobokan dengan senandung ilalang.
Ada sekelumit perasaan enggan ketika bersiap-siap meninggalkan padang ilalang ini. Berada di tempat damai, terisolasi dari lingkungan, apalagi lingkungan kota. Pertanyaan bersimpang-siur di benak, apakah ini sepotong surga yang jatuh ke bumi? Tetapi, karena pulang menjadi suatu kewajiban, yang dapat dilakukan hanya berjanji: suatu saat saya akan kembali ke Tegalpanjang

  • 2016-09-26 09:29:22
  • Admin