image
"MENANGIS" merupakan keterampilan berbahasa yang pertama kali terungkap pada diri manusia ketika terlahir ke dunia. 
Sungguh hal tersebut merupakan sebuah anugerah yang sangat mahal yang telah diberikan oleh Tuhan kepada manusia.  Manusia seakan sudah menyepakati, ketika bayi terlahir dalam keadaan "menangis", hal tersebut merupakan sebuah pertanda bahwa bayi tersebut berada dalam kondisi sehat.  "Menangis" sebagai ungkapan reaksi karena bayi merespons rangsangan atau aksi yang telah ia terima.
      

Dalam pembelajaran berbahasa, menangis merupakan sebuah representasi dari salah satu mata rantai "Keterampilan Berbahasa" yaitu "Berbicara".  Secara alami, manusia melakukan proses pemerolehan atau pembelajaran berbahasa melalui empat tahap, yaitu Menyimak, Berbicara, Membaca, dan Menulis.  Kita akan mampu berbicara jika kita mampu menyimak, dan kita akan mampu menulis jika kita mampu membaca.     
Namun, sungguh sangat kita sayangkan apabila kita sebagai manusia cukup merasa puas dengan hanya memiliki dua keterampilan berbahasa saja, yaitu Menyimak dan Berbicara, sedangkan keterampilan Membaca dan Menulis sering kali kita abaikan.  Padahal, menulis merupakan tahapan tertinggi dalam proses berbahasa.  Mengapa banyak manusia yang tidak berusaha menggali potensi "Menulis" dan mewujudkannya menjadi sebuah keterampilan?      
Bung Tomo, kita kenal sebagai motor perjuangan arek-arek Suroboyo dalam peristiwa pertempuran 10 November sehingga diperingati sebagai Hari pahlawan.
Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan, menjadi Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Mereka lebih kita kenal sebagai orator yang ulung.  Namun, nilai-nilai semangat perjuangan yang mereka miliki seakan hanya terasa lebih dahsyat oleh orang-orang yang ada di sekitar mereka pada saat itu.  Kita sebagai generasi penerus bangsa kurang merasakan gaungnya karena kita tidak dapat memahami lebih jauh lagi akan pribadi, karakter, dan pemikirannya.     
Tidak dapat kita pungkiri ternyata dunia ini berubah karena tulisan berpengaruh sangat besar.  George Walker Bush mampu menginvasi Afghanistan dan Irak, serta berani mengancam Iran dan Suriah karena terinspirasi oleh buku Clash Civilization karya Samuel Huntington. Karya tulis terbukti ampuh memiliki efek yang lebih lama daripada pidato.

       Bukanlah hal yang absurd apabila empat tahap proses pemerolehan berbahasa kita balik menjadi Menulis, Membaca, Berbicara, dan Menyimak. Tidak berdosa bukan?  Kita jadikan "Keterampilan Menulis" sebagai kerbau sehingga Membaca, Berbicara, dan Menyimak kita jadikan talinya.  Sudah menjadi hal yang lumrah jika kita membeli kerbau, talinya pun turut kita miliki.  Namun, ketika kita membeli tali, tidak otomatis kita memiliki kerbau.  Jadikanlah Menulis sebagai kebutuhan pokok sehingga mau tidak mau kita pun melakukan proses membaca, berbicara, dan menyimak!  Apabila kita telah merasa puas menikmati kepandaian dalam berbicara, jangankan mahir menulis, membaca pun menjadi pantangan.  Hal inilah yang sedang terjadi di negeri tercinta ini, khususnya dalam dunia pendidikan.
      

Ketika kita menghendaki pandai berenang, mengemudi, atau bersepeda, tidak cukup hanya belajar "teori" tentang berenang, mengemudi, atau bersepeda.  Kita harus berlatih berenang, mengemudi, atau bersepeda. Iris Murdoch, seorang filsuf dan penulis, mengungkapkan "Hanya dengan mencintai kita dapat belajar mencintai"!  Menulis adalah tindakan konkret dan praktis.  Agar mampu menulis, seseorang harus menulis.  Hanya dengan menulis kita dapat belajar menulis.  Tanpa melakukannya, kita tidak akan pernah mampu menulis.      

Kemampuan menulis tidak bergantung kepada bakat.  Orang yang tidak berbakat pun bisa menjadi penulis jika ia mau berlatih menulis.  Bakat adalah urusan orang-orang terpilih, urusan segelintir orang yang mendapat berkah.  Adapun kemampuan menulis diperkenankan bagi siapa pun, tak kenal kasta, status sosial-ekonomi, tak kenal suku dan agama, tak peduli pimpinan atau bawahan.      

Segala aktivitas pasti memliki hambatan dan tantangan, tidak terkecuali menulis.  Mulailah dengan menulis secara bebas!  Peter Elbow, Direktur Program Menulis di University of Massachusetts, berpendapat bahwa dengan "menulis bebas", orang dapat mengatasi keengganan dan ketakutan untuk menulis.  Tuliskanlah apa pun yang terlintas di benak kita.  Dalam latihan ini, kita disarankan untuk menuangkan dalam bentuk tulisan, apa pun yang kita pikirkan, termasuk ketidakmampuan kita dalam menulis.      

Belajarlah menulis sejak dini dengan membiasakan mengisi buku harian.  Dalam sebuah institusi pendidikan, proses berlatih menulis dapat kita kembangkan melalui majalah dinding, buletin, jurnal, majalah internal, atau surat kabar komunitas.  Dalam era kesejagatan ini kita harus memulai mencintai manfaat positif internet.  Melalui situs dan blog, kita dapat mengembangkan tulisan yang go public.  Apalagi dalam dunia pendidikan saat ini, guru dituntut untuk mulai mencintai kegiatan tulis-menulis, dengan keberadaan e-book. 

Marilah kita ubah dunia ke arah yang lebih beradab dan manusiawi...!!
  

Oleh Kusnadi Khidhir, S.Pd.
(Pernah dimuat dalam tabloid Aksi Guru)
  • 2016-09-28 15:28:06
  • Admin